Kata Pengantar Pameran Foto Trilogi I: “Bandung Edun”
Menuju Bandung 200 tahun.
Pada tahun 1809 Gubernur Jenderal Hindia Belanda H.W. Daendels berkata kepada Bupati R.A. Wiranatakoesoema II, “Zorg, dat als ik terug kom hier een stad is gebouwd” (Usahakan, bila saya datang kembali ke sini, sebuah kota telah dibangun). Setahun setelah peristiwa tersebut dimana Daendels menancapkan tongkatnya di tanah Jl Asia Afrika (KM. BD 0.00), lahir lah sebuah Kota yang bernama “Bandung”. Sehingga tanggal 25 September 1810 merupakan tanggal bersejarah bagi kelahiran Kota Bandung karena pada saat itu Bupati R.A. Wiranatakoesoema II (yang dikenal dengan julukan Dalem Kaum), dengan sebuah besluit pemerintahan Hindia Belanda menyatakan Kota Bandong sebagai ibukota Kabupaten Bandong. Sejak saat itulah Kota Bandung berkembang dengan pesat hingga saat ini. Berbagai julukan tentang Kota Bandung pun disandangnya dari mulai Kota Budaya, Kota Kembang, Kota Seniman, Kota Belanja, Kota Kuliner sampai pada Kota Kreatif. Khusus untuk citra Kota Bandung yang menyandang sebutan sebagai Kota Kreatif, dispilin fotografi menjadi salah satu bidang yang termasuk ke dalam citra kreatif tersebut.
Atas dasar pada kesadaran bahwa kecintaan untuk sebuah kota itu perlu ditumbuhkan melalui cara apapun, maka dari itu sekitar 62 pemotret yang mewakili masyarakat fotografi di Kota Bandung menyuguhkan karya-karya fotonya dalam sebuah Pameran Fotografi yang bertajuk “Bandung Edun”. Pameran ini merupakan episode pertama dari 3 buah rangkaian Pameran Foto (Trilogi) yang akan digelar dalam rangka menuju Bandung 200 tahun pada tahun 2010 nanti. Tema Bandung Edun ini diangkat dengan latar belakang imajinasi, kegelisahan maupun paparan yang berbeda-beda dari setiap pemotret dengan berbagai profesi yang digelutinya. Karena itu para pemotret yang terlibat dalam Pameran Foto ini terdiri dari bermacam-macam aliran dengan media kamera yang beragam seperti Jurnalistik, Piktorial, Dokumenter, Kamera Saku, Lomografi, Lubang Jarum, Digital Imaging, Fine Art, Kontemporer, Esai dan lain sebagainya.
Oleh karena itu tidak ada kata salah dan benar dalam memulai ide Pameran Foto Trilogi ini akan tetapi tindakan kecil apa yang harus kita ciptakan untuk berbagi dengan yang lain. Harapannya adalah bahwa para pelaku fotografi sebagai bagian dari masyarakat Kota Bandung, dapat membuat sebuah jejak langkah di jalan kecil yang dilaluinya. Tentunya melalui kreativitas fotografi yang selalu abadi merekam peradaban cahaya di bumi yang semakin gelap ini. Seperti kata seorang bijak, “Tidak terlalu penting apakah kita berjalan di atas air atau melangkah di udara. Keajaiban sejati adalah terus berjalan di atas bumi”. Begitu pula dengan keajaiban fotografi sejati yang selalu terus merekam, merekam dan merekam. Salam.
Fotografi bergerak!!!
Bandung, 23 Desember 2008
galih sedayu
fotografer & pegiat foto
www.galihsedayu.com
Rabu, 01 April 2009
Fotografi: Komunikasi & Citra Visual
a writting in photography seminar, "photography: communications & branding" for college students at islam university of bandung
Fotografi : Komunikasi & Citra Visual
Dimulai dengan sebuah citra…
Saat fotografi hadir di tengah keberadaan umat manusia yang selalu haus akan setiap penemuan baru, fotografi yang dibawa oleh Louis-Jacques-Mandĕ Daguerre pada tahun 1839 telah menjadi sebuah displin ilmu yang menciptakan citra dari wajah dan semangat sejarah peradaban manusia. Melalui fotografi, manusia semakin aktif berkomunikasi lewat gambar-gambar visual yang ditimbulkan oleh buah teknologi yang bernama kamera. Dimensi waktu & ruang yang merupakan bagian dari sebuah peristiwa hidup (seolah-olah) dihadirkan kembali menjadi sebuah foto yang sarat dengan sebuah pesan maupun mampu memberi inspirasi kepada insan manusia yang melihatnya. Foto karya Joe Rosenthal misalnya. Foto yang menggambarkan pengibaran bendera star and stripes di puncak Gunung Suribachi pada pertempuran Iwo Jima yang menewaskan hampir 6000 jiwa serdadu AS tersebut, memberikan pesan yang berdampak positif terhadap masyarakat internasional. Bahkan menginspirasi seorang sutradara kenamaan dunia, Clint Eastwood untuk membuat film yang berjudul Flags of Our Father.
Bahkan fotografer sebagai orang yang mengeksekusi segala peristiwa maupun potret manusia di dunia pun mempunyai cerita tersendiri. Fotografer August Sander misalnya. Fotografer jerman yang lahir pada tahun 1876 ini banyak mengabadikan potret masyarakat jerman mulai dari petani,pekerja,pengusaha,militer,wanita,kalangan terpelajar dan kaum pinggiran tanpa membeda-bedakan derajat dan status sosial. Malangnya pada tahun 1934 Sander diberangus Gestapo, sebuah rezim penguasa pada masa perang dunia ke-II. Karya-karya fotonya disita & dimusnahkan. Maka tak heran bila sederet cendekiawan seperti Walter Benjamin, Thomas Mann, Roland Barthes, John Berger & Susan Sontaq banyak mengenang seorang August Sander lewat tulisan-tulisannya.
Saat ini ilmu fotografi memberikan peran yang sangat penting terutama dalam melahirkan berbagai macam profesi yang muncul, entah itu seorang fotografer komersil,pengajar fotografi,wartawan foto,kurator foto,editor foto,kolektor foto, penulis ataupun hanya sekedar menjadi seorang pedagang peralatan fotografi. Namun yang perlu kita sadari adalah apa yang dapat kita perbuat dengan ilmu fotografi tersebut dengan spirit komunikasi & citra visual yang dimilikinya.
Karena dalam fotografi tidak hanya sekedar apa yang kita kuasai, melainkan juga mengenai apa yang kita pelajari…apa yang kita hasilkan…dan apa yang kita bagi. Tentunya demi kehidupan yang lebih bermakna.
Salam. Fotografi bergerak!!!
Bandung, 29 Oktober 2008
galih sedayu
fotografer & pegiat foto
www.galihsedayu.com
Fotografi : Komunikasi & Citra Visual
Dimulai dengan sebuah citra…
Saat fotografi hadir di tengah keberadaan umat manusia yang selalu haus akan setiap penemuan baru, fotografi yang dibawa oleh Louis-Jacques-Mandĕ Daguerre pada tahun 1839 telah menjadi sebuah displin ilmu yang menciptakan citra dari wajah dan semangat sejarah peradaban manusia. Melalui fotografi, manusia semakin aktif berkomunikasi lewat gambar-gambar visual yang ditimbulkan oleh buah teknologi yang bernama kamera. Dimensi waktu & ruang yang merupakan bagian dari sebuah peristiwa hidup (seolah-olah) dihadirkan kembali menjadi sebuah foto yang sarat dengan sebuah pesan maupun mampu memberi inspirasi kepada insan manusia yang melihatnya. Foto karya Joe Rosenthal misalnya. Foto yang menggambarkan pengibaran bendera star and stripes di puncak Gunung Suribachi pada pertempuran Iwo Jima yang menewaskan hampir 6000 jiwa serdadu AS tersebut, memberikan pesan yang berdampak positif terhadap masyarakat internasional. Bahkan menginspirasi seorang sutradara kenamaan dunia, Clint Eastwood untuk membuat film yang berjudul Flags of Our Father.
Bahkan fotografer sebagai orang yang mengeksekusi segala peristiwa maupun potret manusia di dunia pun mempunyai cerita tersendiri. Fotografer August Sander misalnya. Fotografer jerman yang lahir pada tahun 1876 ini banyak mengabadikan potret masyarakat jerman mulai dari petani,pekerja,pengusaha,militer,wanita,kalangan terpelajar dan kaum pinggiran tanpa membeda-bedakan derajat dan status sosial. Malangnya pada tahun 1934 Sander diberangus Gestapo, sebuah rezim penguasa pada masa perang dunia ke-II. Karya-karya fotonya disita & dimusnahkan. Maka tak heran bila sederet cendekiawan seperti Walter Benjamin, Thomas Mann, Roland Barthes, John Berger & Susan Sontaq banyak mengenang seorang August Sander lewat tulisan-tulisannya.
Saat ini ilmu fotografi memberikan peran yang sangat penting terutama dalam melahirkan berbagai macam profesi yang muncul, entah itu seorang fotografer komersil,pengajar fotografi,wartawan foto,kurator foto,editor foto,kolektor foto, penulis ataupun hanya sekedar menjadi seorang pedagang peralatan fotografi. Namun yang perlu kita sadari adalah apa yang dapat kita perbuat dengan ilmu fotografi tersebut dengan spirit komunikasi & citra visual yang dimilikinya.
Karena dalam fotografi tidak hanya sekedar apa yang kita kuasai, melainkan juga mengenai apa yang kita pelajari…apa yang kita hasilkan…dan apa yang kita bagi. Tentunya demi kehidupan yang lebih bermakna.
Salam. Fotografi bergerak!!!
Bandung, 29 Oktober 2008
galih sedayu
fotografer & pegiat foto
www.galihsedayu.com
Perjalanan lain seorang Andhika Prasetya
a writting as a curator in "another journey of andhika prasetya" photo exhibition.
Kehilangan seseorang di dalam suatu kehidupan selalu menjadi cerita yang haru biru. Seperti yang tengah kita alami saat ini, dunia fotografi kembali kehilangan salah satu tokoh panutan masyarakat foto yang kerap mengisi aktivitas kreatif khususnya di Kota Bandung . Setelah kepergian Bapak RM Soelarko, Bapak Leonardi dan Bapak KC Limarga beberapa tahun silam, kini Kota Bandung kembali kehilangan seorang figur bersahaja yang telah banyak berjasa terutama dalam hal mengajarkan ilmu fotografi. Ignatius Andhika Prasetya, dalam usianya yang ke 40 tahun, ayah dari 2 orang anak ini ternyata begitu cepat dipanggil oleh Sang Khalik ke RibaanNya. Tepat pada hari Minggu Tanggal 10 Agustus 2008 pukul 21.30 WIB, ia secara mendadak wafat di daerah Wangon (Jawa Tengah) dalam perjalanan dari Jogyakarta menuju Bandung setelah mengikuti acara sebuah seminar tentang film. Berawal dari keluhan perutnya yang tiba-tiba sakit sampai akhirnya ia meregang nyawa dalam waktu kurang lebih 20 menit kemudian. Entah karena sebab apa, yang pasti adalah bahwa kita sebagai anak manusia tidak memiliki kuasa apa-apa terhadap sebuah takdir yang bernama Kematian yang sering datang menjemput tanpa mengetuk pintu.
Berbicara tentang Andhika Prasetya, tidak pernah lepas dari imej kebaikan yang selalu menyertainya. Semasa hidupnya, ia adalah seorang pria sederhana yang berprofesi sebagai pengajar fotografi di Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Widyatama. Kecintaannya pada fotografi dapat dilihat dalam kehidupannya sehari-hari. Putra keduanya yang baru berumur 5 tahun pun diberi nama Sebastian atas dasar kekagumannya pada fotografer kelas dunia, Sebastiao Salgado. Ia juga sangat peduli akan perkembangan sebuah komunitas foto, dimana ia sempat membantu menjadi Kurator Pameran Foto yang digagas oleh Komunitas Pemotret Bandung (KPB) bertajuk “Bandung Sehari” pada tahun 2001 di Bandung Indah Plaza (BIP). Ia pun memiliki pandangan yang luas terhadap sebuah karya foto. Dimana sisi konten, kedalaman dan hal-hal yang bersifat semiotik akan selalu menjadi wacana yang terus digali olehnya.
Kedahagaan akan wawasan baru selalu muncul darinya bak makanan yang diperuntukkan bagi jiwa. Fotografi, film, musik, filsafat, desain, dan seni akan selalu menjadi topik perbincangan yang menarik kala kita sedang berdiskusi dengannya. Citra orang baik, mau tidak mau melekat di dalam dirinya karena begitu banyak pribadi yang telah ia sentuh hatinya. Baik melalui sopan santun, kesabaran, berbagi ilmu dan kecakapan yang dimilikinya. Sampai pada akhir hayatnya pun sepertinya ia tidak mau merepotkan keluarga dan para sahabatnya. Sebelum kepergiannya, ia sempat berpesan kepada istri yang sangat dicintainya bahwa bila kelak ia meninggal, ia tidak ingin jenasahnya dimakamkan atau dikubur di tanah. Ia lebih memilih agar tubuhnya dikremasi dengan alasan bahwa ia tidak mau merepotkan orang banyak.
Pesan yang ia sampaikan tampaknya tertanam di benak keluarganya. Menjelang pelepasan jenasah di ruang kremasi, istri terkasihnya yang bernama Lita dan kedua anaknya pun tampak tegar melepas orang yang sangat mereka cintai tersebut. Itu semua terlihat pada senyuman keharuan sekaligus kebahagiaan yang dipancarkan oleh mereka. Ia seperti membisikkan kepada mereka semua bahwa tidak ada yang perlu ditangiskan karena ia selalu ada dan senantiasa memeluk mereka dengan erat. Meski, Lia putri pertamanya yang berumur 7 tahun sesekali memandangi foto ayahnya dalam bingkai dengan tatapan yang kosong.
Pada saat sebelum proses kremasi, terlihat tubuhnya begitu rapih dan jelas meskipun dengan tubuh yang kaku ketika berada di dalam peti mati. Wajahnya menyinarkan senyum dan optimisme meski dengan kedua bola mata yang terpejam. Benda-benda yang ia sukai ketika masih hidup pun ikut menemani dan disimpan ke dalam peti matinya. Diantaranya sebuah buku yang berjudul “Principles of Visual Anthropology”, sepotong kaos oblong putih yang bolong-bolong, seuntai tas dari anyaman rotan dan sepasang sepatu coklat yang selalu dikenakannya. Memang ia bukanlah seorang Alfred Stieglitz, Walker Evans, Henri Cartier-Bresson, Richard Avedon dan sederet nama fotografer kenamaan lainnya. Ia hanyalah seorang Andhika Prasetya, seorang pemuda asal Jember yang lahir pada Tanggal 2 Mei 1968. Tetapi kehidupannya banyak menginspirasi dan menggugah para sahabat yang pernah dekat dengannya.
Sebagai wujud sebuah penghormatan yang paling dalam dari kami yang mewakili para sahabat, murid dan saudara dari seorang Andhika Prasetya, kami mencoba mengenang kepergian dan mengingat kembali kehadirannya dengan mempersembahkan Pameran Foto yang bertajuk “Another Journey of Andhika Prasetya”. Pameran foto yang bertepatan dengan 40 hari setelah kepergiannya ini merupakan beberapa kumpulan hasil rekaman imajinasi visual beliau dari mulai karya foto terdahulu sampai pada karya foto yang diambil beberapa waktu sebelum beliau wafat. Seperti foto seekor elang yang sedang terbang tinggi dan sendiri di angkasa. Bagi kami, seolah-olah foto tersebut merupakan titisan diri ruh seorang Andhika Prasetya yang meninggalkan jasadnya di bumi untuk berkelana kembali dalam keabadian waktu. Agaknya ia telah siap melangkahkan kakinya ke dalam sebuah kehidupan lain. Karena baginya kebahagiaan itu bukanlah sebuah perhentian akhir, melainkan sebuah perjalanan.
So long to a simple man…our brother, our teacher and our friend.
There is no death.
There’s only a beginning of life.
Enjoy your another journey!
Salam. Fotografi bergerak!!!
Bandung, 11 September 2008
galih sedayu
fotografer & pegiat foto
Kehilangan seseorang di dalam suatu kehidupan selalu menjadi cerita yang haru biru. Seperti yang tengah kita alami saat ini, dunia fotografi kembali kehilangan salah satu tokoh panutan masyarakat foto yang kerap mengisi aktivitas kreatif khususnya di Kota Bandung . Setelah kepergian Bapak RM Soelarko, Bapak Leonardi dan Bapak KC Limarga beberapa tahun silam, kini Kota Bandung kembali kehilangan seorang figur bersahaja yang telah banyak berjasa terutama dalam hal mengajarkan ilmu fotografi. Ignatius Andhika Prasetya, dalam usianya yang ke 40 tahun, ayah dari 2 orang anak ini ternyata begitu cepat dipanggil oleh Sang Khalik ke RibaanNya. Tepat pada hari Minggu Tanggal 10 Agustus 2008 pukul 21.30 WIB, ia secara mendadak wafat di daerah Wangon (Jawa Tengah) dalam perjalanan dari Jogyakarta menuju Bandung setelah mengikuti acara sebuah seminar tentang film. Berawal dari keluhan perutnya yang tiba-tiba sakit sampai akhirnya ia meregang nyawa dalam waktu kurang lebih 20 menit kemudian. Entah karena sebab apa, yang pasti adalah bahwa kita sebagai anak manusia tidak memiliki kuasa apa-apa terhadap sebuah takdir yang bernama Kematian yang sering datang menjemput tanpa mengetuk pintu.
Berbicara tentang Andhika Prasetya, tidak pernah lepas dari imej kebaikan yang selalu menyertainya. Semasa hidupnya, ia adalah seorang pria sederhana yang berprofesi sebagai pengajar fotografi di Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Widyatama. Kecintaannya pada fotografi dapat dilihat dalam kehidupannya sehari-hari. Putra keduanya yang baru berumur 5 tahun pun diberi nama Sebastian atas dasar kekagumannya pada fotografer kelas dunia, Sebastiao Salgado. Ia juga sangat peduli akan perkembangan sebuah komunitas foto, dimana ia sempat membantu menjadi Kurator Pameran Foto yang digagas oleh Komunitas Pemotret Bandung (KPB) bertajuk “Bandung Sehari” pada tahun 2001 di Bandung Indah Plaza (BIP). Ia pun memiliki pandangan yang luas terhadap sebuah karya foto. Dimana sisi konten, kedalaman dan hal-hal yang bersifat semiotik akan selalu menjadi wacana yang terus digali olehnya.
Kedahagaan akan wawasan baru selalu muncul darinya bak makanan yang diperuntukkan bagi jiwa. Fotografi, film, musik, filsafat, desain, dan seni akan selalu menjadi topik perbincangan yang menarik kala kita sedang berdiskusi dengannya. Citra orang baik, mau tidak mau melekat di dalam dirinya karena begitu banyak pribadi yang telah ia sentuh hatinya. Baik melalui sopan santun, kesabaran, berbagi ilmu dan kecakapan yang dimilikinya. Sampai pada akhir hayatnya pun sepertinya ia tidak mau merepotkan keluarga dan para sahabatnya. Sebelum kepergiannya, ia sempat berpesan kepada istri yang sangat dicintainya bahwa bila kelak ia meninggal, ia tidak ingin jenasahnya dimakamkan atau dikubur di tanah. Ia lebih memilih agar tubuhnya dikremasi dengan alasan bahwa ia tidak mau merepotkan orang banyak.
Pesan yang ia sampaikan tampaknya tertanam di benak keluarganya. Menjelang pelepasan jenasah di ruang kremasi, istri terkasihnya yang bernama Lita dan kedua anaknya pun tampak tegar melepas orang yang sangat mereka cintai tersebut. Itu semua terlihat pada senyuman keharuan sekaligus kebahagiaan yang dipancarkan oleh mereka. Ia seperti membisikkan kepada mereka semua bahwa tidak ada yang perlu ditangiskan karena ia selalu ada dan senantiasa memeluk mereka dengan erat. Meski, Lia putri pertamanya yang berumur 7 tahun sesekali memandangi foto ayahnya dalam bingkai dengan tatapan yang kosong.
Pada saat sebelum proses kremasi, terlihat tubuhnya begitu rapih dan jelas meskipun dengan tubuh yang kaku ketika berada di dalam peti mati. Wajahnya menyinarkan senyum dan optimisme meski dengan kedua bola mata yang terpejam. Benda-benda yang ia sukai ketika masih hidup pun ikut menemani dan disimpan ke dalam peti matinya. Diantaranya sebuah buku yang berjudul “Principles of Visual Anthropology”, sepotong kaos oblong putih yang bolong-bolong, seuntai tas dari anyaman rotan dan sepasang sepatu coklat yang selalu dikenakannya. Memang ia bukanlah seorang Alfred Stieglitz, Walker Evans, Henri Cartier-Bresson, Richard Avedon dan sederet nama fotografer kenamaan lainnya. Ia hanyalah seorang Andhika Prasetya, seorang pemuda asal Jember yang lahir pada Tanggal 2 Mei 1968. Tetapi kehidupannya banyak menginspirasi dan menggugah para sahabat yang pernah dekat dengannya.
Sebagai wujud sebuah penghormatan yang paling dalam dari kami yang mewakili para sahabat, murid dan saudara dari seorang Andhika Prasetya, kami mencoba mengenang kepergian dan mengingat kembali kehadirannya dengan mempersembahkan Pameran Foto yang bertajuk “Another Journey of Andhika Prasetya”. Pameran foto yang bertepatan dengan 40 hari setelah kepergiannya ini merupakan beberapa kumpulan hasil rekaman imajinasi visual beliau dari mulai karya foto terdahulu sampai pada karya foto yang diambil beberapa waktu sebelum beliau wafat. Seperti foto seekor elang yang sedang terbang tinggi dan sendiri di angkasa. Bagi kami, seolah-olah foto tersebut merupakan titisan diri ruh seorang Andhika Prasetya yang meninggalkan jasadnya di bumi untuk berkelana kembali dalam keabadian waktu. Agaknya ia telah siap melangkahkan kakinya ke dalam sebuah kehidupan lain. Karena baginya kebahagiaan itu bukanlah sebuah perhentian akhir, melainkan sebuah perjalanan.
So long to a simple man…our brother, our teacher and our friend.
There is no death.
There’s only a beginning of life.
Enjoy your another journey!
Salam. Fotografi bergerak!!!
Bandung, 11 September 2008
galih sedayu
fotografer & pegiat foto
fotografi sebagai alat kebutuhan masyarakat dunia
a writting in photography seminar, "photography as a visual need of citizen of the world" for maphac (photography club of maranatha christian university).
Fotografi sebagai alat kebutuhan masyarakat dunia
Sudah layak dan sepantasnya lah bahwa kita sebagai bagian dari masyarakat dunia, sangat berterimakasih kepada dua orang tokoh yang bernama Joseph Nicéphore Niépce dan Louis-Jacques-Mandé Daguerre. Yang mana berkat kolaborasi mereka berdua akhirnya manusia diberkahi sebuah penemuan besar pada tahun 1839 yaitu “Fotografi”. Bahkan 2 tahun setelah itu, kita sangat beruntung dapat merasakan kehadiran fotografi tersebut melalui Dr Jurrian Munich yang membawanya ke Indonesia (yang pada saat itu namanya masih Hindia Belanda) pada tahun 1841. Meski sangat disayangkan bahwa peninggalan karya-karya foto Munich relatif tidak ada yang tersisa hingga kini. Setelah Munich, dua orang fotografer asal inggris yang bernama Walter Woodbury dan James Page datang ke Indonesia pada tanggal 18 mei 1857. Atas jasa mereka berdua inilah, tonggak sejarah pendokumentasian di Indonesia diletakkan. Buku-buku fotografi yang mereka buat antara lain Photographers Java, Raja Van Lombok, Eerste Minister Van Buleleng dan Pintoe Ketjil Batavia membuktikan buah karya mereka. Barulah setelah itu semua, muncul fotografer pribumi asal jawa yang bernama Kassian Cephas. Saat itu Kassian yang merupakan anak angkat pasangan Adrianus Schalk dan Eta Philipina Kreeft, bekerja sebagai juru potret keraton dan kesultanan. Lewat kemampuan fotografinya, sekitar 160 panil relief Karmawibhangga Candi Borobudur yang bertutur tentang alur atau gelombang (Whibhangga) dan perbuatan (Karma) kehidupan manusia semasa hidup dan setelah mati diabadikan sekitar tahun 1875. Sampai pada akhirnya, nama-nama fotografer dunia pun bermunculan untuk mengukir sejarah fotografi. Seperti Alfred Stieglitz, Edward Steichen dan Jacob Riis di era tahun 1880-1918. Lalu ada Dada, Margareth Bourke-White dan August Sanders di era tahun 1918-1945. Manuel Alvarez Bravo dan Shomei Tomatsu di era tahun 1945-1975. Dan Sebastiao Salgado di era tahun 1875 sampai sekarang. Hingga saat ini pula, fotografi selalu digunakan untuk merekam segala kejadian dan peristiwa yang mengukir sejarah peradaban manusia di jagat raya ini.
Dewasa ini, fotografi mau tidak mau sudah menjadi alat kebutuhan masyarakat dunia. Sebagai contoh fotografi sebagai alat kebutuhan dokumentasi. Segala acara dari mulai pernikahan, ulang tahun, pesta wisuda, launching produk sebuah perusahaan, dan berbagai acara lainnya pastinya membutuhkan fotografi. Disini fotografi berfungsi sebagai pengarsipan (dokumen) sebuah peristiwa tertentu yang biasanya berkaitan dengan emosi seperti rasa haru, gembira, sukacita dan kesedihan. Dalam konteks ini lepas dari suka atau tidak suka, fotografi sudah menjadi bagian dari sebuah industri ketika berhadapan dengan demand rutin dari masyarakat sesuai dengan kebudayaannya masing-masing.
Lalu kita bisa juga menghubungkan fotografi sebagai alat kebutuhan sejarah. Dalam hal ini fotografi berfungsi sebagai sebuah catatan yang merekam segala kejadian, peristiwa dan momen yang terjadi di planet bumi secara visual. Kita ambil contoh yaitu salah satu karya foto hasil bidikan fotografer O Louis Mazzatenta pada tahun 1983 yang menggambarkan sebuah tengkorak perempuan dengan posisi yang sedang terjatuh dengan dua buah cincin yang melingkar di jarinya serta gelang emas yang tergeletak di sisinya. Foto ini sebenarnya menceritakan tentang akibat sebuah peristiwa alam yang dashyat, dimana pada tahun 79 SM telah terjadi letusan gunung Vesuvius di Italia yang menghancurkan kota Pompei.
Selain itu fotografi dapat digunakan sebagai alat kebutuhan media iklan (advertising). Benetton, sebuah perusahaan global pembuat pakaian dan perlengkapan busana (apparel), sejak tahun 1984 mulai menggunakan jasa seorang fotografer yang bernama Oliviero Toscani dalm hal merancang dan mengarahkan iklan-iklannya. Dengan slogan terkenalnya “United Colors of Benetton”, unsur fotografi menjadi yang paling dominan dalam mengkomunikasikan produknya bagi kepentingan konsumen. Tercatat beberapa iklan Benetton menuai kontroversi publik meski mereka sadar sepenuhnya tentang tujuan foto yang mereka sampaikan. Dari mulai foto seorang pemuda yang tengah sekarat karena penyakit AIDS, foto seorang perempuan berkulit hitam sedang menyusui bayi berkulit putih, foto seorang pendeta dan biarawati yang sedang berciuman sampai pada foto seorang pemuda yahudi memeluk pemuda arab dimana uang memancar dari bola dunia yang sama-sama mereka pegang. Walau bagaimanapun sebuah kreativitas pada akhirnya harus berkompromi terhadap norma dan etika yang diciptakan oleh masyarakat.
Sebenarnya masih banyak lagi hal yang dapat dijadikan contoh mengenai fotografi sebagai alat kebutuhan masyarakat dunia. Semisal fotografi sebagai alat kebutuhan jurnalistik, komersil, kreativitas, media kampanye, publikasi dan lain sebagainya. Yang terpenting adalah bahwa fotografi dengan citra visual yang dimilikinya menjadi mudah dicerna dalam kultur masyarakat kita yang lebih banyak mengkonsumsi produk visual ketimbang tulisan.
Jika Mark Twain pernah berkata : “Bekerjalah bagaikan tak butuh uang. Mencintailah bagaikan tak pernah disakiti. Menarilah bagaikan tak seorang pun sedang menonton”, mungkin kita bisa sedikit meniru nilai filosofis tersebut dengan “Memotretlah bagaikan tak peduli meski dunia berhenti berputar”.
Salam. Fotografi bergerak!!!
Bandung, 5 September 2008
Tulisan ini diberikan kepada mahasiswa/i klub fotografi MAPHAC
Universitas Kristen Maranatha pada tanggal 13 September 2008
galih sedayu
fotografer & pegiat foto
Fotografi sebagai alat kebutuhan masyarakat dunia
Sudah layak dan sepantasnya lah bahwa kita sebagai bagian dari masyarakat dunia, sangat berterimakasih kepada dua orang tokoh yang bernama Joseph Nicéphore Niépce dan Louis-Jacques-Mandé Daguerre. Yang mana berkat kolaborasi mereka berdua akhirnya manusia diberkahi sebuah penemuan besar pada tahun 1839 yaitu “Fotografi”. Bahkan 2 tahun setelah itu, kita sangat beruntung dapat merasakan kehadiran fotografi tersebut melalui Dr Jurrian Munich yang membawanya ke Indonesia (yang pada saat itu namanya masih Hindia Belanda) pada tahun 1841. Meski sangat disayangkan bahwa peninggalan karya-karya foto Munich relatif tidak ada yang tersisa hingga kini. Setelah Munich, dua orang fotografer asal inggris yang bernama Walter Woodbury dan James Page datang ke Indonesia pada tanggal 18 mei 1857. Atas jasa mereka berdua inilah, tonggak sejarah pendokumentasian di Indonesia diletakkan. Buku-buku fotografi yang mereka buat antara lain Photographers Java, Raja Van Lombok, Eerste Minister Van Buleleng dan Pintoe Ketjil Batavia membuktikan buah karya mereka. Barulah setelah itu semua, muncul fotografer pribumi asal jawa yang bernama Kassian Cephas. Saat itu Kassian yang merupakan anak angkat pasangan Adrianus Schalk dan Eta Philipina Kreeft, bekerja sebagai juru potret keraton dan kesultanan. Lewat kemampuan fotografinya, sekitar 160 panil relief Karmawibhangga Candi Borobudur yang bertutur tentang alur atau gelombang (Whibhangga) dan perbuatan (Karma) kehidupan manusia semasa hidup dan setelah mati diabadikan sekitar tahun 1875. Sampai pada akhirnya, nama-nama fotografer dunia pun bermunculan untuk mengukir sejarah fotografi. Seperti Alfred Stieglitz, Edward Steichen dan Jacob Riis di era tahun 1880-1918. Lalu ada Dada, Margareth Bourke-White dan August Sanders di era tahun 1918-1945. Manuel Alvarez Bravo dan Shomei Tomatsu di era tahun 1945-1975. Dan Sebastiao Salgado di era tahun 1875 sampai sekarang. Hingga saat ini pula, fotografi selalu digunakan untuk merekam segala kejadian dan peristiwa yang mengukir sejarah peradaban manusia di jagat raya ini.
Dewasa ini, fotografi mau tidak mau sudah menjadi alat kebutuhan masyarakat dunia. Sebagai contoh fotografi sebagai alat kebutuhan dokumentasi. Segala acara dari mulai pernikahan, ulang tahun, pesta wisuda, launching produk sebuah perusahaan, dan berbagai acara lainnya pastinya membutuhkan fotografi. Disini fotografi berfungsi sebagai pengarsipan (dokumen) sebuah peristiwa tertentu yang biasanya berkaitan dengan emosi seperti rasa haru, gembira, sukacita dan kesedihan. Dalam konteks ini lepas dari suka atau tidak suka, fotografi sudah menjadi bagian dari sebuah industri ketika berhadapan dengan demand rutin dari masyarakat sesuai dengan kebudayaannya masing-masing.
Lalu kita bisa juga menghubungkan fotografi sebagai alat kebutuhan sejarah. Dalam hal ini fotografi berfungsi sebagai sebuah catatan yang merekam segala kejadian, peristiwa dan momen yang terjadi di planet bumi secara visual. Kita ambil contoh yaitu salah satu karya foto hasil bidikan fotografer O Louis Mazzatenta pada tahun 1983 yang menggambarkan sebuah tengkorak perempuan dengan posisi yang sedang terjatuh dengan dua buah cincin yang melingkar di jarinya serta gelang emas yang tergeletak di sisinya. Foto ini sebenarnya menceritakan tentang akibat sebuah peristiwa alam yang dashyat, dimana pada tahun 79 SM telah terjadi letusan gunung Vesuvius di Italia yang menghancurkan kota Pompei.
Selain itu fotografi dapat digunakan sebagai alat kebutuhan media iklan (advertising). Benetton, sebuah perusahaan global pembuat pakaian dan perlengkapan busana (apparel), sejak tahun 1984 mulai menggunakan jasa seorang fotografer yang bernama Oliviero Toscani dalm hal merancang dan mengarahkan iklan-iklannya. Dengan slogan terkenalnya “United Colors of Benetton”, unsur fotografi menjadi yang paling dominan dalam mengkomunikasikan produknya bagi kepentingan konsumen. Tercatat beberapa iklan Benetton menuai kontroversi publik meski mereka sadar sepenuhnya tentang tujuan foto yang mereka sampaikan. Dari mulai foto seorang pemuda yang tengah sekarat karena penyakit AIDS, foto seorang perempuan berkulit hitam sedang menyusui bayi berkulit putih, foto seorang pendeta dan biarawati yang sedang berciuman sampai pada foto seorang pemuda yahudi memeluk pemuda arab dimana uang memancar dari bola dunia yang sama-sama mereka pegang. Walau bagaimanapun sebuah kreativitas pada akhirnya harus berkompromi terhadap norma dan etika yang diciptakan oleh masyarakat.
Sebenarnya masih banyak lagi hal yang dapat dijadikan contoh mengenai fotografi sebagai alat kebutuhan masyarakat dunia. Semisal fotografi sebagai alat kebutuhan jurnalistik, komersil, kreativitas, media kampanye, publikasi dan lain sebagainya. Yang terpenting adalah bahwa fotografi dengan citra visual yang dimilikinya menjadi mudah dicerna dalam kultur masyarakat kita yang lebih banyak mengkonsumsi produk visual ketimbang tulisan.
Jika Mark Twain pernah berkata : “Bekerjalah bagaikan tak butuh uang. Mencintailah bagaikan tak pernah disakiti. Menarilah bagaikan tak seorang pun sedang menonton”, mungkin kita bisa sedikit meniru nilai filosofis tersebut dengan “Memotretlah bagaikan tak peduli meski dunia berhenti berputar”.
Salam. Fotografi bergerak!!!
Bandung, 5 September 2008
Tulisan ini diberikan kepada mahasiswa/i klub fotografi MAPHAC
Universitas Kristen Maranatha pada tanggal 13 September 2008
galih sedayu
fotografer & pegiat foto
Perspektif Waktu
a writting as a curator in "perspective of time" photo exhibition by brigadepoto community.
Ada sebuah tulisan menarik tentang waktu di dalam buku kedua karangan Neale Donald Walsh yang berjudul Conversations with God. Di dalam buku itu disebutkan bahwa apa yang dikatakan manusia tentang waktu itu sebenarnya tidak ada. Semua hal dan segala peristiwa itu, ada dan terjadi secara serempak. Bahkan pemahaman yang benar tentang waktu adalah bahwa waktu dialami sebagai suatu gerakan dan suatu aliran, bukannya sebagai suatu yang tetap. Kitalah yang sebenarnya bergerak dan yang ada hanyalah apa yang kita sebut sebagai momentum. Bila kita menggali lebih dalam permasalahan tentang waktu, akan selalu ada sejumlah pendapat tentang konsep, pemaknaan, bahkan misteri tentang waktu tersebut. De Ja Vu, sebuah pengalaman diri yang mungkin pernah dialami oleh setiap manusia akan selalu dikaitkan dengan masalah waktu. Sebagian orang yang diberi karunia Six Sense atau indera keenam pun menganggap bahwa mereka dapat melihat kejadian dalam suatu waktu yang belum terjadi. Bahkan seorang sutradara film kenamaan, Steven Spielberg, menuangkan kegelisahannya tentang waktu dengan membuat sebuah karya film yang berjudul Back to the Future. Film yang diperankan oleh aktor Michael J Fox tersebut bercerita tentang manusia yang melakukan perjalanan dengan mesin waktu yang dibuatnya.
Sepertinya segala pertanyaan dan opini tentang waktu itulah yang menyentuh sekelompok mahasiswa Fikom Unpad Bandung yang tergabung dalam Brigadepoto, untuk mewujudkan jerih payah kreativitas mereka dalam bentuk Pameran Foto yang bertajuk Perspektif ‘Waktu’. Bagi mereka, Perspektif ‘Waktu’ adalah cara pandang untuk melihat suatu peristiwa atau obyek dalam kurun waktu tertentu yang dipengaruhi oleh emosi mereka pada suasana yang berbeda. Melalui media fotografi yang diperkenalkan ke dunia sejak tahun 1839 oleh Louis Jacques Mande Daguerre, 30 buah karya foto dipamerkan oleh para mahasiswa yang peduli akan perkembangan seni fotografi tersebut. Karya foto yang berjudul “Kuberikan padamu seperangkat alat tebang dan selembar potret diri” hasil rekaman dan proses kreatif seorang Doly Harahap, merupakan bentuk protes dirinya terhadap pembalakan liar yang berlangsung terus menerus sepanjang waktu sekaligus pemaknaan individu tentang pohon dalam salah satu foto serinya yang bertema Apa Kabar Pepohonan?. Lain halnya dengan karya foto hasil bidikan Sandi ‘Usenk’ yang berjudul “tertawa”. Dengan berani ia menampilkan potret humanis dalam sebuah waktu kehidupan di Sekolah Luar Biasa (SLB) Bandung meski obyek yang diambilnya sengaja dibuat blur (out of focus), seperti halnya sifat waktu yang cenderung absurd. Terinspirasi atas penggalan puisi dari salah satu anak yang bersekolah di sana, ia mencoba menyuarakan sebuah seruan agar kita tidak melakukan hal diskriminatif terhadap kaum yang dianggap minoritas dalam masyarakat. Lalu ada pula foto seri karya Ricky Indrawan yang berjudul ketinggian, kecepatan dan kegelapan. Foto-foto tersebut bak sebuah representasi visual tentang perjalanan waktu berikut rasa yang hadir di sana.
Secara keseluruhan semua karya foto yang dipamerkan cukup mewakili genre fotografi yang ada pada umumnya. Dari mulai gaya reportase, konseptual sampai kepada gaya kontemporer, semua karya foto yang dihasilkan cukup mengangkat tema yang diusung dalam pameran foto ini. Hanya saja permasalahan sekarang adalah bagaimana mereka dapat menjawab karya-karya mereka ketika dilemparkan kepada publik yang pastinya mempunyai paradigma dan interpretasi masing-masing dalam melihat karya foto. Karena bukan masalah benar atau salah dalam menilai sebuah karya foto melainkan apakah kita mau meluangkan sedikit waktu untuk mendengar entah itu pesan, harapan dan segala kisah yang dimiliki oleh si pemotret. Maka dari itu tidak jarang sebuah karya foto dapat menginspirasi seseorang untuk berkarya kembali. Seperti halnya seorang fotografer Robert Capa yang terkenal dengan ucapannya yaitu “if your pictures aren’t good enough you’re not close enough”, yang membuat sebuah karya foto pada tahun 1944 tentang pendaratan tentara amerika di pantai normandia. Dimana foto tersebut banyak menginspirasi film-film perang yang dibuat termasuk film Saving Private Ryan (1998) yang dibintangi aktor kondang Tom Hanks. Atau karya seorang artis yang bernama Lady Filmer pada tahun 1864 yang disebut-sebut sebagai kolase foto pertama di dunia yaitu sebuah karya foto dengan cara memotong dan mengatur foto sedemikian rupa serta menambahkan cat air pada foto tersebut. Bagaimanapun ide yang diciptakan olehnya, saat ini banyak ditiru oleh para fotografer baik dalam bidang seni maupun komersil.
Terlepas dari pakem fotografi yang beragam, sebuah karya foto yang baik sejatinya adalah sebuah karya sederhana yang jujur, memuat isi dan pesan, ada ideologi dan dapat menginspirasi orang yang melihatnya untuk berkarya kembali meskipun semuanya itu tidaklah menjadi mutlak. Agaknya langkah kecil teman-teman brigadepoto lewat suguhan pameran foto ini dapat merupakan awal dari sebuah langkah besar. Ide tentang merekam sebuah waktu menjadi sangat menarik karena sebenarnya keberadaan ruang yang kita tempati saat ini pun secara tidak langsung turut direkam. Merekam waktu berarti merekam kehidupan itu sendiri yang tentunya selalu bergerak, berubah dan mengalir. Menghargai waktu artinya sama dengan menghargai kehidupan itu sendiri. Karena melalui fotografi, citra visual tentang segala kejadian dan obyek yang mengisi ruang kehidupan di jagat raya ini dibekukan kembali dengan harapan agar kita selalu mengingat, mengingat dan mengingat.
Salam. Fotografi bergerak!!!
Bandung, 4 September 2008
galih sedayu
fotografer & pegiat foto
Ada sebuah tulisan menarik tentang waktu di dalam buku kedua karangan Neale Donald Walsh yang berjudul Conversations with God. Di dalam buku itu disebutkan bahwa apa yang dikatakan manusia tentang waktu itu sebenarnya tidak ada. Semua hal dan segala peristiwa itu, ada dan terjadi secara serempak. Bahkan pemahaman yang benar tentang waktu adalah bahwa waktu dialami sebagai suatu gerakan dan suatu aliran, bukannya sebagai suatu yang tetap. Kitalah yang sebenarnya bergerak dan yang ada hanyalah apa yang kita sebut sebagai momentum. Bila kita menggali lebih dalam permasalahan tentang waktu, akan selalu ada sejumlah pendapat tentang konsep, pemaknaan, bahkan misteri tentang waktu tersebut. De Ja Vu, sebuah pengalaman diri yang mungkin pernah dialami oleh setiap manusia akan selalu dikaitkan dengan masalah waktu. Sebagian orang yang diberi karunia Six Sense atau indera keenam pun menganggap bahwa mereka dapat melihat kejadian dalam suatu waktu yang belum terjadi. Bahkan seorang sutradara film kenamaan, Steven Spielberg, menuangkan kegelisahannya tentang waktu dengan membuat sebuah karya film yang berjudul Back to the Future. Film yang diperankan oleh aktor Michael J Fox tersebut bercerita tentang manusia yang melakukan perjalanan dengan mesin waktu yang dibuatnya.
Sepertinya segala pertanyaan dan opini tentang waktu itulah yang menyentuh sekelompok mahasiswa Fikom Unpad Bandung yang tergabung dalam Brigadepoto, untuk mewujudkan jerih payah kreativitas mereka dalam bentuk Pameran Foto yang bertajuk Perspektif ‘Waktu’. Bagi mereka, Perspektif ‘Waktu’ adalah cara pandang untuk melihat suatu peristiwa atau obyek dalam kurun waktu tertentu yang dipengaruhi oleh emosi mereka pada suasana yang berbeda. Melalui media fotografi yang diperkenalkan ke dunia sejak tahun 1839 oleh Louis Jacques Mande Daguerre, 30 buah karya foto dipamerkan oleh para mahasiswa yang peduli akan perkembangan seni fotografi tersebut. Karya foto yang berjudul “Kuberikan padamu seperangkat alat tebang dan selembar potret diri” hasil rekaman dan proses kreatif seorang Doly Harahap, merupakan bentuk protes dirinya terhadap pembalakan liar yang berlangsung terus menerus sepanjang waktu sekaligus pemaknaan individu tentang pohon dalam salah satu foto serinya yang bertema Apa Kabar Pepohonan?. Lain halnya dengan karya foto hasil bidikan Sandi ‘Usenk’ yang berjudul “tertawa”. Dengan berani ia menampilkan potret humanis dalam sebuah waktu kehidupan di Sekolah Luar Biasa (SLB) Bandung meski obyek yang diambilnya sengaja dibuat blur (out of focus), seperti halnya sifat waktu yang cenderung absurd. Terinspirasi atas penggalan puisi dari salah satu anak yang bersekolah di sana, ia mencoba menyuarakan sebuah seruan agar kita tidak melakukan hal diskriminatif terhadap kaum yang dianggap minoritas dalam masyarakat. Lalu ada pula foto seri karya Ricky Indrawan yang berjudul ketinggian, kecepatan dan kegelapan. Foto-foto tersebut bak sebuah representasi visual tentang perjalanan waktu berikut rasa yang hadir di sana.
Secara keseluruhan semua karya foto yang dipamerkan cukup mewakili genre fotografi yang ada pada umumnya. Dari mulai gaya reportase, konseptual sampai kepada gaya kontemporer, semua karya foto yang dihasilkan cukup mengangkat tema yang diusung dalam pameran foto ini. Hanya saja permasalahan sekarang adalah bagaimana mereka dapat menjawab karya-karya mereka ketika dilemparkan kepada publik yang pastinya mempunyai paradigma dan interpretasi masing-masing dalam melihat karya foto. Karena bukan masalah benar atau salah dalam menilai sebuah karya foto melainkan apakah kita mau meluangkan sedikit waktu untuk mendengar entah itu pesan, harapan dan segala kisah yang dimiliki oleh si pemotret. Maka dari itu tidak jarang sebuah karya foto dapat menginspirasi seseorang untuk berkarya kembali. Seperti halnya seorang fotografer Robert Capa yang terkenal dengan ucapannya yaitu “if your pictures aren’t good enough you’re not close enough”, yang membuat sebuah karya foto pada tahun 1944 tentang pendaratan tentara amerika di pantai normandia. Dimana foto tersebut banyak menginspirasi film-film perang yang dibuat termasuk film Saving Private Ryan (1998) yang dibintangi aktor kondang Tom Hanks. Atau karya seorang artis yang bernama Lady Filmer pada tahun 1864 yang disebut-sebut sebagai kolase foto pertama di dunia yaitu sebuah karya foto dengan cara memotong dan mengatur foto sedemikian rupa serta menambahkan cat air pada foto tersebut. Bagaimanapun ide yang diciptakan olehnya, saat ini banyak ditiru oleh para fotografer baik dalam bidang seni maupun komersil.
Terlepas dari pakem fotografi yang beragam, sebuah karya foto yang baik sejatinya adalah sebuah karya sederhana yang jujur, memuat isi dan pesan, ada ideologi dan dapat menginspirasi orang yang melihatnya untuk berkarya kembali meskipun semuanya itu tidaklah menjadi mutlak. Agaknya langkah kecil teman-teman brigadepoto lewat suguhan pameran foto ini dapat merupakan awal dari sebuah langkah besar. Ide tentang merekam sebuah waktu menjadi sangat menarik karena sebenarnya keberadaan ruang yang kita tempati saat ini pun secara tidak langsung turut direkam. Merekam waktu berarti merekam kehidupan itu sendiri yang tentunya selalu bergerak, berubah dan mengalir. Menghargai waktu artinya sama dengan menghargai kehidupan itu sendiri. Karena melalui fotografi, citra visual tentang segala kejadian dan obyek yang mengisi ruang kehidupan di jagat raya ini dibekukan kembali dengan harapan agar kita selalu mengingat, mengingat dan mengingat.
Salam. Fotografi bergerak!!!
Bandung, 4 September 2008
galih sedayu
fotografer & pegiat foto
Mengenang Andhika Prasetya
a personal writting about a friend, a teacher & a brother (in memory of andhika prasetya).
Dunia fotografi kembali kehilangan salah satu tokoh panutan masyarakat foto yang kerap mengisi aktivitas kreatif khususnya di Kota Bandung . Setelah kepergian Bapak RM Soelarko, Bapak Leonardi dan Bapak KC Limarga beberapa tahun silam, kini Kota Bandung kembali kehilangan seorang figur bersahaja yang telah banyak berjasa terutama dalam hal mengajarkan ilmu fotografi. Ignatius Andhika Prasetya, dalam usianya yang ke 40 tahun, ayah dari 2 orang anak ini ternyata begitu cepat dipanggil oleh Sang Khalik ke RibaanNya. Tepat pada hari Minggu Tanggal 10 Agustus 2008 pukul 21.30 WIB, ia secara mendadak wafat di daerah Wangon (Jawa Tengah) dalam perjalanan dari Jogyakarta menuju Bandung setelah mengikuti acara sebuah seminar tentang film. Berawal dari keluhan perutnya yang tiba-tiba sakit sampai akhirnya ia meregang nyawa dalam waktu kurang lebih 20 menit kemudian. Entah karena sebab apa, yang pasti adalah bahwa kita sebagai anak manusia tidak memiliki kuasa apa-apa terhadap sebuah takdir yang bernama Kematian yang sering datang menjemput tanpa mengetuk pintu.
Semasa hidupnya, ia adalah seorang pria sederhana yang berprofesi sebagai pengajar fotografi di Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Widyatama. Kecintaannya pada fotografi dapat dilihat dalam kehidupannya sehari-hari. Putra keduanya yang baru berumur 5 tahun pun diberi nama Sebastian atas dasar kekagumannya pada fotografer kelas dunia, Sebastiao Salgado. Buah karyanya yang berupa Pameran Foto Tunggal bertajuk “Art & Motion” pada tahun 2000 di Topas Galeria Hotel merupakan bukti prestasi dan kreativitasnya di bidang fotografi. Salah satu karya fotonya yang berjudul “Angkara Murka” turut dipamerkan di sana. Foto ini memvisualkan Figur Barong yang merupakan sebuah cermin diri dalam pergulatan abadi antara nafsu jahat dengan sifat-sifat kebaikan yang selalu hadir dalam diri kita masing-masing. Ia juga sangat peduli akan perkembangan sebuah komunitas foto, dimana ia sempat membantu menjadi Kurator Pameran Foto yang digagas oleh Komunitas Pemotret Bandung (KPB) bertajuk “Bandung Sehari” pada tahun 2001 di Bandung Indah Plaza (BIP). Ia pun memiliki pandangan yang luas terhadap sebuah karya foto. Dimana sisi konten, kedalaman dan hal-hal yang bersifat semiotik akan selalu menjadi wacana yang terus digali olehnya.
Selain itu ia selalu dahaga akan wawasan baru bak makanan yang diperuntukkan bagi jiwanya. Fotografi, film, musik, filsafat, desain, dan seni akan selalu menjadi topik perbincangan yang menarik kala kita sedang berdiskusi dengannya. Citra orang baik, mau tidak mau melekat di dalam dirinya karena begitu banyak pribadi yang telah ia sentuh hatinya. Baik melalui sopan santun, kesabaran, berbagi ilmu dan kecakapan yang dimilikinya. Sampai pada akhir hayatnya pun sepertinya ia tidak mau merepotkan keluarga dan para sahabatnya. Sebelum kepergiannya, ia sempat berpesan kepada istri yang sangat dicintainya bahwa bila kelak ia meninggal, ia tidak ingin jenasahnya dimakamkan atau dikubur di tanah. Ia lebih memilih agar tubuhnya dikremasi dengan alasan bahwa ia tidak mau merepotkan orang banyak.
Pesan yang ia sampaikan tampaknya tertanam di benak keluarganya. Menjelang pelepasan jenasah di ruang kremasi, istri terkasihnya yang bernama Lita dan kedua anaknya pun tampak tegar melepas orang yang sangat mereka cintai tersebut. Itu semua terlihat pada senyuman keharuan sekaligus kebahagiaan yang dipancarkan oleh mereka. Ia seperti membisikkan kepada mereka semua bahwa tidak ada yang perlu ditangiskan karena ia selalu ada dan senantiasa memeluk mereka dengan erat. Meski, Lia putri pertamanya yang berumur 7 tahun sesekali memandangi foto ayahnya dalam bingkai dengan tatapan yang kosong.
Agaknya, seorang Andhika begitu siap ketika waktunya tiba. Tubuhnya begitu rapih dan jelas meskipun dengan tubuh yang kaku ketika berada di dalam peti mati. Wajahnya menyinarkan senyum dan optimisme meski dengan kedua bola mata yang terpejam. Benda-benda yang ia sukai ketika masih hidup pun ikut menemani dan disimpan ke dalam peti matinya. Diantaranya sebuah buku yang berjudul “Principles of Visual Anthropology”, sepotong kaos oblong putih yang bolong-bolong, seuntai tas dari anyaman rotan dan sepasang sepatu coklat yang selalu dikenakannya. Memang ia bukanlah seorang Alfred Stieglitz, Walker Evans, Henri Cartier-Bresson, Richard Avedon dan sederet nama fotografer kenamaan lainnya. Ia hanyalah seorang Andhika Prasetya, seorang pemuda asal Jember yang lahir pada Tanggal 2 Mei 1968. Tetapi kehidupannya banyak menginspirasi dan menggugah para sahabat yang pernah dekat dengannya. Termasuk saya yang pernah diberikan sebuah buku olehnya yang berjudul “Falsafah Hidup Bahagia” karangan Ki Ageng Suryomentaram. Secara sederhana ia menulis kalimat ini di dalam buku tersebut, “a simple gift, from a simple man, for a simple happy man”. Sejak saat itu pula, kalimat itu membuat saya semakin bersyukur karena kebahagiaan yang selalu saya miliki setiap saat.
Sepertinya kini ia telah siap melangkahkan kakinya ke dalam sebuah perjalanan baru. Karena baginya kebahagiaan itu bukanlah sebuah perhentian akhir, melainkan sebuah perjalanan.
So long to a simple man…a brother, a teacher and a friend o’mine.
There is no death.
There’s only a beginning of life.
Enjoy your another journey!
Salam. Fotografi bergerak!!!
Bandung, 13 Agustus 2008
galih sedayu
pegiat foto
Dunia fotografi kembali kehilangan salah satu tokoh panutan masyarakat foto yang kerap mengisi aktivitas kreatif khususnya di Kota Bandung . Setelah kepergian Bapak RM Soelarko, Bapak Leonardi dan Bapak KC Limarga beberapa tahun silam, kini Kota Bandung kembali kehilangan seorang figur bersahaja yang telah banyak berjasa terutama dalam hal mengajarkan ilmu fotografi. Ignatius Andhika Prasetya, dalam usianya yang ke 40 tahun, ayah dari 2 orang anak ini ternyata begitu cepat dipanggil oleh Sang Khalik ke RibaanNya. Tepat pada hari Minggu Tanggal 10 Agustus 2008 pukul 21.30 WIB, ia secara mendadak wafat di daerah Wangon (Jawa Tengah) dalam perjalanan dari Jogyakarta menuju Bandung setelah mengikuti acara sebuah seminar tentang film. Berawal dari keluhan perutnya yang tiba-tiba sakit sampai akhirnya ia meregang nyawa dalam waktu kurang lebih 20 menit kemudian. Entah karena sebab apa, yang pasti adalah bahwa kita sebagai anak manusia tidak memiliki kuasa apa-apa terhadap sebuah takdir yang bernama Kematian yang sering datang menjemput tanpa mengetuk pintu.
Semasa hidupnya, ia adalah seorang pria sederhana yang berprofesi sebagai pengajar fotografi di Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Widyatama. Kecintaannya pada fotografi dapat dilihat dalam kehidupannya sehari-hari. Putra keduanya yang baru berumur 5 tahun pun diberi nama Sebastian atas dasar kekagumannya pada fotografer kelas dunia, Sebastiao Salgado. Buah karyanya yang berupa Pameran Foto Tunggal bertajuk “Art & Motion” pada tahun 2000 di Topas Galeria Hotel merupakan bukti prestasi dan kreativitasnya di bidang fotografi. Salah satu karya fotonya yang berjudul “Angkara Murka” turut dipamerkan di sana. Foto ini memvisualkan Figur Barong yang merupakan sebuah cermin diri dalam pergulatan abadi antara nafsu jahat dengan sifat-sifat kebaikan yang selalu hadir dalam diri kita masing-masing. Ia juga sangat peduli akan perkembangan sebuah komunitas foto, dimana ia sempat membantu menjadi Kurator Pameran Foto yang digagas oleh Komunitas Pemotret Bandung (KPB) bertajuk “Bandung Sehari” pada tahun 2001 di Bandung Indah Plaza (BIP). Ia pun memiliki pandangan yang luas terhadap sebuah karya foto. Dimana sisi konten, kedalaman dan hal-hal yang bersifat semiotik akan selalu menjadi wacana yang terus digali olehnya.
Selain itu ia selalu dahaga akan wawasan baru bak makanan yang diperuntukkan bagi jiwanya. Fotografi, film, musik, filsafat, desain, dan seni akan selalu menjadi topik perbincangan yang menarik kala kita sedang berdiskusi dengannya. Citra orang baik, mau tidak mau melekat di dalam dirinya karena begitu banyak pribadi yang telah ia sentuh hatinya. Baik melalui sopan santun, kesabaran, berbagi ilmu dan kecakapan yang dimilikinya. Sampai pada akhir hayatnya pun sepertinya ia tidak mau merepotkan keluarga dan para sahabatnya. Sebelum kepergiannya, ia sempat berpesan kepada istri yang sangat dicintainya bahwa bila kelak ia meninggal, ia tidak ingin jenasahnya dimakamkan atau dikubur di tanah. Ia lebih memilih agar tubuhnya dikremasi dengan alasan bahwa ia tidak mau merepotkan orang banyak.
Pesan yang ia sampaikan tampaknya tertanam di benak keluarganya. Menjelang pelepasan jenasah di ruang kremasi, istri terkasihnya yang bernama Lita dan kedua anaknya pun tampak tegar melepas orang yang sangat mereka cintai tersebut. Itu semua terlihat pada senyuman keharuan sekaligus kebahagiaan yang dipancarkan oleh mereka. Ia seperti membisikkan kepada mereka semua bahwa tidak ada yang perlu ditangiskan karena ia selalu ada dan senantiasa memeluk mereka dengan erat. Meski, Lia putri pertamanya yang berumur 7 tahun sesekali memandangi foto ayahnya dalam bingkai dengan tatapan yang kosong.
Agaknya, seorang Andhika begitu siap ketika waktunya tiba. Tubuhnya begitu rapih dan jelas meskipun dengan tubuh yang kaku ketika berada di dalam peti mati. Wajahnya menyinarkan senyum dan optimisme meski dengan kedua bola mata yang terpejam. Benda-benda yang ia sukai ketika masih hidup pun ikut menemani dan disimpan ke dalam peti matinya. Diantaranya sebuah buku yang berjudul “Principles of Visual Anthropology”, sepotong kaos oblong putih yang bolong-bolong, seuntai tas dari anyaman rotan dan sepasang sepatu coklat yang selalu dikenakannya. Memang ia bukanlah seorang Alfred Stieglitz, Walker Evans, Henri Cartier-Bresson, Richard Avedon dan sederet nama fotografer kenamaan lainnya. Ia hanyalah seorang Andhika Prasetya, seorang pemuda asal Jember yang lahir pada Tanggal 2 Mei 1968. Tetapi kehidupannya banyak menginspirasi dan menggugah para sahabat yang pernah dekat dengannya. Termasuk saya yang pernah diberikan sebuah buku olehnya yang berjudul “Falsafah Hidup Bahagia” karangan Ki Ageng Suryomentaram. Secara sederhana ia menulis kalimat ini di dalam buku tersebut, “a simple gift, from a simple man, for a simple happy man”. Sejak saat itu pula, kalimat itu membuat saya semakin bersyukur karena kebahagiaan yang selalu saya miliki setiap saat.
Sepertinya kini ia telah siap melangkahkan kakinya ke dalam sebuah perjalanan baru. Karena baginya kebahagiaan itu bukanlah sebuah perhentian akhir, melainkan sebuah perjalanan.
So long to a simple man…a brother, a teacher and a friend o’mine.
There is no death.
There’s only a beginning of life.
Enjoy your another journey!
Salam. Fotografi bergerak!!!
Bandung, 13 Agustus 2008
galih sedayu
pegiat foto
Hidup Persib!!
a writting as a curator in "viva persib!!!" photo exhibition by andri gurnita.
Dunia, Sepakbola dan Persib Bandung.
Keunikan sebuah permainan sepakbola adalah bahwa citra olah raga ini selalu menjadi magnet bagi para penggemarnya di seantero jagat. Di sana kita dapat menemukan beragam episode cerita baik itu sebuah tragedi, euforia, humanisme maupun spirit yang muncul sebagai dampak dari sebuah permainan sederhana namun begitu sangat mendunia. Negara-negara yang kerap menjadi langganan pesta piala dunia seperti Italia yang terkenal dengan disiplin grendel gaya cattenaccio atau the Three Lions Inggris dengan gaya kick & rush nya selalu menjadi tontonan yang wajib bagi para pecinta sepakbola. Kisah-kisah figur pesepakbola di pertandingan piala dunia selalu mewarnai perbincangan di dalam kancah persepakbolaan dunia. Mulai dari kisah kontroversial pemain Argentina Diego Maradona yang terkenal dengan salah satu golnya (seperti) dengan menggunakan tangan sehingga dijuluki Hand of God, kisah tragis seorang pemain sepakbola asal Colombia Pablo Escobar yang tewas mengenaskan diberondong peluru seusai pertandingan piala dunia karena gol bunuh dirinya sampai pada kisah perseteruan kapten kesebelasan prancis Zinedine Zidane yang dikeluarkan wasit gara-gara menanduk dada lawan mainnya Marco Materazzi seorang pemain tim italia.
Bandung, kota yang terkenal dengan sebutan Parijs Van Java pun mempunyai sebuah cerita tersendiri dengan klub sepakbola kebanggaannya yang bernama “Persib”. Persib dengan suporter fanatiknya (Bobotoh) selalu menjadi pusat perhatian di kalangan masyarakat, tidak hanya di Kota Bandung tetapi juga di Jawa Barat. Pada awalnya Persib bernama Bandoeng Inlandsche Voetball Bond (BIVB) yang merupakan salah satu organisasi perjuangan kaum nasionalis pada tahun 1923. Tapi setelah berkiprah beberapa saat BIVB kemudian menghilang. Setelah itu muncul dua perkumpulan lain yaitu Persatuan Sepak Bola Indonesia (PSBI) dan National Voetball Bond (NVB). Barulah pada tanggal 14 Maret 1933 kedua perkumpulan tersebut bersatu dan melahirkan Persib. Di tahun 2008 ini Persib merayakan hari jadinya yang ke-75.
Segala pesona & fenomena yang hadir di dalam tubuh Persib inilah yang menggelitik seorang fotografer Surat Kabar Pikiran Rakyat Andri Gurnita untuk menyuguhkan 75 karya fotonya dalam sebuah Pameran Foto yang bernama “Hidup Persib!!!”, sepenggal kalimat sederhana namun penuh semangat yang telah lama dikumandangkan oleh ratusan ribu fans Persib sejak dulu. Tanpa ada tendensi apapun, Andri Gurnita secara jujur merekam penggalan-penggalan fotografis yang merepresentasikan realita Persib dengan segala atmosfir yang terhubung dengannya. Lewat beberapa karyanya pula, Andri Gurnita tidak hanya sekedar memaparkan citra foto pemain Persib ketika sedang beraksi di lapangan hijau melainkan pula ada usaha untuk menyampaikan sebuah pesan.
Simak saja foto yang menggambarkan seorang polisi yang tengah menonton sendirian sebuah pertandingan Persib tanpa dihadiri oleh para Bobotoh yang biasanya penuh sesak akibat terkena sangsi hukuman. Secara halus foto tersebut mencerminkan sebuah konsekuwensi sebagai akibat dari ketidakdisiplinan.
Atau foto lain yang melukiskan seorang anak laki-laki kecil yang sedang mengangkat kedua belah tangannya di antara kerumunan Bobotoh Persib sembari memakai topi sebagai simbol dan atribut dari Persib. Seolah foto ini memberikan semangat dan optimisme ke depan bagi para pemain Persib yang sedang berlaga dari seorang generasi cilik penerus mereka.
Setidaknya foto-foto tersebut diharapkan dapat membangun sebuah citra sebagaimana salah satu fungsi fotografi itu sendiri. Dan agaknya citra sepakbola menjadi demikian dalam ketika olah raga ini seharusnya dapat menjadi ajang kreativitas manusia yang terlibat di dalamnya. Hanya saja anak-anak manusia yang mempunyai kegairahan kepada dunia sepakbola tersebut mempunyai caranya masing-masing untuk menciptakan imajinasi yang muncul. Entah itu sebagai wujud menyemangati tim yang sedang berlaga, melampiaskan kekalahan ataupun merayakan sebuah kemenangan.
Di Italia misalnya. Setelah Italia berhasil mengalahkan Prancis dan menjadi juara dunia keempat kalinya pada tahun 2006, desainer Antonio Falangan merayakan kemenangan Italia dengan cara merancang gaun dengan warna bendera Italia untuk para modelnya dan membuat sebuah acara fashion show dengan tema AltaRoma Fashion. Lalu ada juga seniman Gianni Schiumarini yang berkarya di ajang festival karya pasir ‘Sandsation’ di Berlin pada piala dunia 2006 sehingga karyanya yang berjudul Fighting The Ball mendapatkan sebuah penghargaan.
Agaknya seorang Andri Gurnita dengan bijak memilih untuk memamerkan foto-foto Persib hasil jepretannya sebagai wujud totalitas, perayaan dan kecintaannya terhadap Persib. Dengan harapan bahwa pelatih, wasit, pemain, bobotoh Persib dan masyarakat Jawa Barat dapat berdialog dengan hasil-hasil karyanya. Karena walau bagaimanapun salah satu esensi sebuah karya foto yang berguna adalah bahwa foto tersebut dapat dilihat dan dibagikan kepada khalayak umum. Sehingga imaji-imaji visual tersebut dapat menjadi catatan sejarah khususnya bagi perjalanan Persib ke depan. Ketika sebuah peperangan hanya mampu memisahkan umat manusia dengan sia-sia di dunia, sebuah pertandingan sepakbola justru diharapkan menjadi simbol pemersatu bangsa di dunia. Agaknya, sudah layak dan sepantasnya lah Persib pun dapat menjadi alat pemersatu masyarakat Bandung dan Jawa Barat. Hidup Persib!!
Salam. Fotografi bergerak!!!
Bandung, 9 Juni 2008
galih sedayu
Pegiat foto
Dunia, Sepakbola dan Persib Bandung.
Keunikan sebuah permainan sepakbola adalah bahwa citra olah raga ini selalu menjadi magnet bagi para penggemarnya di seantero jagat. Di sana kita dapat menemukan beragam episode cerita baik itu sebuah tragedi, euforia, humanisme maupun spirit yang muncul sebagai dampak dari sebuah permainan sederhana namun begitu sangat mendunia. Negara-negara yang kerap menjadi langganan pesta piala dunia seperti Italia yang terkenal dengan disiplin grendel gaya cattenaccio atau the Three Lions Inggris dengan gaya kick & rush nya selalu menjadi tontonan yang wajib bagi para pecinta sepakbola. Kisah-kisah figur pesepakbola di pertandingan piala dunia selalu mewarnai perbincangan di dalam kancah persepakbolaan dunia. Mulai dari kisah kontroversial pemain Argentina Diego Maradona yang terkenal dengan salah satu golnya (seperti) dengan menggunakan tangan sehingga dijuluki Hand of God, kisah tragis seorang pemain sepakbola asal Colombia Pablo Escobar yang tewas mengenaskan diberondong peluru seusai pertandingan piala dunia karena gol bunuh dirinya sampai pada kisah perseteruan kapten kesebelasan prancis Zinedine Zidane yang dikeluarkan wasit gara-gara menanduk dada lawan mainnya Marco Materazzi seorang pemain tim italia.
Bandung, kota yang terkenal dengan sebutan Parijs Van Java pun mempunyai sebuah cerita tersendiri dengan klub sepakbola kebanggaannya yang bernama “Persib”. Persib dengan suporter fanatiknya (Bobotoh) selalu menjadi pusat perhatian di kalangan masyarakat, tidak hanya di Kota Bandung tetapi juga di Jawa Barat. Pada awalnya Persib bernama Bandoeng Inlandsche Voetball Bond (BIVB) yang merupakan salah satu organisasi perjuangan kaum nasionalis pada tahun 1923. Tapi setelah berkiprah beberapa saat BIVB kemudian menghilang. Setelah itu muncul dua perkumpulan lain yaitu Persatuan Sepak Bola Indonesia (PSBI) dan National Voetball Bond (NVB). Barulah pada tanggal 14 Maret 1933 kedua perkumpulan tersebut bersatu dan melahirkan Persib. Di tahun 2008 ini Persib merayakan hari jadinya yang ke-75.
Segala pesona & fenomena yang hadir di dalam tubuh Persib inilah yang menggelitik seorang fotografer Surat Kabar Pikiran Rakyat Andri Gurnita untuk menyuguhkan 75 karya fotonya dalam sebuah Pameran Foto yang bernama “Hidup Persib!!!”, sepenggal kalimat sederhana namun penuh semangat yang telah lama dikumandangkan oleh ratusan ribu fans Persib sejak dulu. Tanpa ada tendensi apapun, Andri Gurnita secara jujur merekam penggalan-penggalan fotografis yang merepresentasikan realita Persib dengan segala atmosfir yang terhubung dengannya. Lewat beberapa karyanya pula, Andri Gurnita tidak hanya sekedar memaparkan citra foto pemain Persib ketika sedang beraksi di lapangan hijau melainkan pula ada usaha untuk menyampaikan sebuah pesan.
Simak saja foto yang menggambarkan seorang polisi yang tengah menonton sendirian sebuah pertandingan Persib tanpa dihadiri oleh para Bobotoh yang biasanya penuh sesak akibat terkena sangsi hukuman. Secara halus foto tersebut mencerminkan sebuah konsekuwensi sebagai akibat dari ketidakdisiplinan.
Atau foto lain yang melukiskan seorang anak laki-laki kecil yang sedang mengangkat kedua belah tangannya di antara kerumunan Bobotoh Persib sembari memakai topi sebagai simbol dan atribut dari Persib. Seolah foto ini memberikan semangat dan optimisme ke depan bagi para pemain Persib yang sedang berlaga dari seorang generasi cilik penerus mereka.
Setidaknya foto-foto tersebut diharapkan dapat membangun sebuah citra sebagaimana salah satu fungsi fotografi itu sendiri. Dan agaknya citra sepakbola menjadi demikian dalam ketika olah raga ini seharusnya dapat menjadi ajang kreativitas manusia yang terlibat di dalamnya. Hanya saja anak-anak manusia yang mempunyai kegairahan kepada dunia sepakbola tersebut mempunyai caranya masing-masing untuk menciptakan imajinasi yang muncul. Entah itu sebagai wujud menyemangati tim yang sedang berlaga, melampiaskan kekalahan ataupun merayakan sebuah kemenangan.
Di Italia misalnya. Setelah Italia berhasil mengalahkan Prancis dan menjadi juara dunia keempat kalinya pada tahun 2006, desainer Antonio Falangan merayakan kemenangan Italia dengan cara merancang gaun dengan warna bendera Italia untuk para modelnya dan membuat sebuah acara fashion show dengan tema AltaRoma Fashion. Lalu ada juga seniman Gianni Schiumarini yang berkarya di ajang festival karya pasir ‘Sandsation’ di Berlin pada piala dunia 2006 sehingga karyanya yang berjudul Fighting The Ball mendapatkan sebuah penghargaan.
Agaknya seorang Andri Gurnita dengan bijak memilih untuk memamerkan foto-foto Persib hasil jepretannya sebagai wujud totalitas, perayaan dan kecintaannya terhadap Persib. Dengan harapan bahwa pelatih, wasit, pemain, bobotoh Persib dan masyarakat Jawa Barat dapat berdialog dengan hasil-hasil karyanya. Karena walau bagaimanapun salah satu esensi sebuah karya foto yang berguna adalah bahwa foto tersebut dapat dilihat dan dibagikan kepada khalayak umum. Sehingga imaji-imaji visual tersebut dapat menjadi catatan sejarah khususnya bagi perjalanan Persib ke depan. Ketika sebuah peperangan hanya mampu memisahkan umat manusia dengan sia-sia di dunia, sebuah pertandingan sepakbola justru diharapkan menjadi simbol pemersatu bangsa di dunia. Agaknya, sudah layak dan sepantasnya lah Persib pun dapat menjadi alat pemersatu masyarakat Bandung dan Jawa Barat. Hidup Persib!!
Salam. Fotografi bergerak!!!
Bandung, 9 Juni 2008
galih sedayu
Pegiat foto
Langganan:
Postingan (Atom)
+bw.jpg)