Rabu, 01 April 2009

Tangis Tegar Karst Citatah Di Antara Debu Keangkuhan Manusia

TANGIS TEGAR KARST CITATAH DI ANTARA DEBU KEANGKUHAN MANUSIA.


Zamannya Tersier kala Miosen Awal (sekitar 30 – 20 juta tahun yang silam). Ketika kawasan alam Karst Citatah yang merupakan perbukitan batu kapur yang membentang dari daerah Tagog Apu, Padalarang, Cipatat, hingga Rajamandala (sekitar km 22 & km 23 dari arah bandung menuju cianjur) terbentuk dari endapan hasil binatang laut dan kini menjadi sebuah memoar keajaiban fenomena alam. Dimana pada kawasan tersebut terdapat berbagai warisan karst yang perlu dilestarikan seperti Pr. Pabeasan dengan tebing 125-nya, Gunung Hawu, Gunung Manik dengan tebing 49-nya, Karang Panganten, Gunung Masigit dan Pr. Pawon dengan guanya yang telah diketahui merupakan situs hunian prasejarah pertama di Jawa Barat.

Jauh sebelumnya kawasan Karst Citatah ini merupakan surga yang hijau nan damai di antara aroma segar rerumputan, kicau burung yang bebas lepas beterbangan serta semilir angin yang sejuk menyibakkan rambut. Hingga suatu saat kawasan ini ‘dieksplorasi’ oleh segelintir manusia yang berlindung di bawah secarik kertas yang bernama sertifikat resmi. Demi seonggok batu kapur sebagai bahan pembuat bangunan semisal gedung-gedung megah yang kerap menghiasi wajah metropolitan, pengolahan batu gamping yang kadang menggunakan bahan peledak itu pun diaminkan. Keberadaan karst sebagai pusaka alam tersebut makin lama semakin hilang tertelan gemuruh ledakan dan mesin-mesin raksasa yang haus akan penaklukan. Surga itu pun kini menjadi surga imajiner di antara debu-debu yang menyesakkan nafas.

Adalah Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB), sebuah kelompok kecil independen dan di dalamnya berisi orang-orang sederhana yang sangat peduli terhadap lingkungan alam (khususnya cekungan bandung), yang menggagas sebuah program edukasi visual yaitu Lomba Foto “Selamatkan Karst Citatah’. Program ini selain bertujuan untuk mengarsipkan foto-foto sejarah alam juga bertujuan untuk menyentuh hati masyarakat agar dapat menyuarakan lagu kepedulian terhadap kawasan Karst Citatah yang saat ini semakin mendekati ajal. Melalui media fotografi ini diharapkan agar masyarakat (yang umumnya lebih mudah mencerna sesuatu secara visual ketimbang tulisan) dapat membaca sebuah realitas pahit yang terjadi pada alam tempat mereka berpijak. Dengan harapan bahwa mulai saat ini, bersama-sama kita dapat menyumbangkan segala solusi maupun jawaban dari setiap permasalahan yang timbul akibat kegelisahan Karst Citatah. Meski kita sadar benar bahwa semuanya itu sudah terlambat.

Lomba Foto “Selamatkan Karst Citatah” yang diadakan pada periode bulan November – Desember 2008 yang lalu ini diikuti oleh 68 Peserta dengan jumlah karya foto yang masuk sebanyak 575 karya. Agar masyarakat dapat melihat dan mengapresiasikan hasil-hasil karya lomba foto tersebut, Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB) bekerjasama dengan Air Photography Communications mengadakan sebuah Pameran Foto “Selamatkan Karst Citatah” yang berlangsung pada tanggal 18 Februari 2009 s/d 25 Februari 2009 di Museum Geologi Bandung. Sekitar 50 buah karya yang terdiri dari 9 karya foto para pemenang lomba dari semua kategori yaitu Keindahan, Kerusakan dan Human Interest serta beberapa karya foto yang masuk ke dalam nominasi turut dipamerkan kepada publik.

Sebagai sebuah paparan visual, Pameran Foto ini mudah-mudahan dapat menjadi renungan bersama untuk berbuat sesuatu bagi masa depan Karst Citatah. Jangan sampai suatu saat nanti Karst Citatah hanya menjadi totem kelam sejarah alam bangsa kita seperti halnya yang terjadi di Jogyakarta. Sekitar 4 km arah barat kota ini, di antara Kali Progo dan Kali Opak, bukit gunung kapur yang tadinya begitu luas, kini telah sirna dengan hanya menyisakan seonggok batu gamping sebagai simbol kebesaran alam yang pernah mengukir peradaban anak manusia. Walau sepertinya sulit untuk mencegah kerusakan alam yang terjadi di depan pelupuk mata kita, namun semangat optimis itu harus tetap berdenyut dan menular ke dalam hati sanubari semua orang yang memiliki mata jiwa. Dengan cara apapun, melalui media apapun. Untuk itulah fotografi yang terlahir ke bumi sejak tahun 1839 silam, dapat menjadi medium visual bagi lakon fotografer maupun insan fotografi yang memiliki peran tanggung jawab sosial. Yang tanpa lelah merekam imaji-imaji visual, yang tanpa gentar mengabadikan memori-memori visual, yang tanpa beban menyimpan bingkai-bingkai visual. Demi sebuah tujuan besar dari sebuah langkah kecil yang bernama perubahan. Seorang bijak dulu pernah berujar bahwa “Cara terbaik untuk meramalkan masa depan adalah dengan menciptakannya”. Karenanya marilah kita ciptakan masa depan bagi keabadian Karst Citatah. Agar tetap berdiri tegak dari mulai matahari terbit hingga terbenamnya sang surya. Agar selalu menjadi noktah alam yang tak terhapuskan dari tanah air kita. Yang selalu setia menemani dan menjadi monumen alam sejati bagi keberlangsungan hidup anak dan cucu kita selamanya.
Selamatkan Karst Citatah!!
Salam. Fotografi bergerak!!


Galih Sedayu
Fotografer & Pegiat Foto

Tulisan ini diberikan sebagai kata pengantar di Pameran Foto Selamatkan Karst Citatah yang dilaksanakan oleh KRCB pada tanggal 19 s/d 25 Februari 2009 di Museum Geologi Bandung.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar